“Jangan terburu-buru, besok kan masih ada waktu”. Nasihat seperti itu sering saya dengar di sekitar saya. Memang benar, untuk apa terburu-buru, toh kalau bukan rezeki dikejar hingga ujung dunia pun tidak akan didapatkan. Tapi apa sesederhana itukah hidup kita? Saya kira tidak. Memangnya seberapa banyak waktu yang kita miliki? Dua puluh empat jam bukanlah waktu yang lama. Disadari atau tidak kita pasti pernah merasakan betapa cepatnya waktu berputar. Jadi, haruskah kita menerapkan nasihat itu dalam hidup kita?
Menunda bukanlah kesabaran - Kesabaran dalam melakukan aktivitas memang sangat diperlukan agar hasil yang diperoleh bisa memuaskan. Tapi menunda bukanlah bagian dari kesabaran. Menunda adalah racun yang menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran (baca: alon-alon asal kelakon). Sebab jika satu hal tertunda, akan menyebabkan hal yang lain tertunda juga. Semakin banyak waktu yang digunakan, tentu saja semakin banyak menguras tenaga dan pikiran bahkan biaya.
Hal kecil bisa berdampak besar - Banyak orang, mungkin juga termasuk saya sering menunda hal-hal yang sudah menjadi rutinitas. Misalnya servis kendaraan, membayar rekening listrik, atau memperbaiki kerusakan kecil pada perabot rumah. Meskipun hal kecil, jika sering ditunda, akan terus menumpuk menjadi sesuatu yang besar dan merepotkan. Bagaimana jika tiba-tiba datang petugas dari PLN untuk mencabut jaringan listrik karena Anda telat membayar rekening listrik? Pastinya akan membuat Anda mengeluarkan lebih banyak biaya. Dan kita baru menyadari setelah kita merasakan akibatnya.
Skala prioritas dan perencanaan - Langkah yang paling ideal adalah menyusun skala prioritas dan rencana yang matang. Mana yang lebih penting itulah yang didahulukan. Jadi ketika sebuah aktivitas memerlukan waktu yang lebih lama bukan karena ditunda melainkan mencari waktu yang lebih tepat agar aktivitas yang dilakukan itu bisa berjalan lebih lancar.
![]() |
| Jangan tunda esok apa yang bisa dilakukan hari ini |
Menunda bukanlah kesabaran - Kesabaran dalam melakukan aktivitas memang sangat diperlukan agar hasil yang diperoleh bisa memuaskan. Tapi menunda bukanlah bagian dari kesabaran. Menunda adalah racun yang menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran (baca: alon-alon asal kelakon). Sebab jika satu hal tertunda, akan menyebabkan hal yang lain tertunda juga. Semakin banyak waktu yang digunakan, tentu saja semakin banyak menguras tenaga dan pikiran bahkan biaya.
Hal kecil bisa berdampak besar - Banyak orang, mungkin juga termasuk saya sering menunda hal-hal yang sudah menjadi rutinitas. Misalnya servis kendaraan, membayar rekening listrik, atau memperbaiki kerusakan kecil pada perabot rumah. Meskipun hal kecil, jika sering ditunda, akan terus menumpuk menjadi sesuatu yang besar dan merepotkan. Bagaimana jika tiba-tiba datang petugas dari PLN untuk mencabut jaringan listrik karena Anda telat membayar rekening listrik? Pastinya akan membuat Anda mengeluarkan lebih banyak biaya. Dan kita baru menyadari setelah kita merasakan akibatnya.
Skala prioritas dan perencanaan - Langkah yang paling ideal adalah menyusun skala prioritas dan rencana yang matang. Mana yang lebih penting itulah yang didahulukan. Jadi ketika sebuah aktivitas memerlukan waktu yang lebih lama bukan karena ditunda melainkan mencari waktu yang lebih tepat agar aktivitas yang dilakukan itu bisa berjalan lebih lancar.

EmoticonEmoticon