Saya sering diolok oleh teman dan orang-orang di sekitar saya, “masa begitu saja tidak bisa” atau “cuma begitu saja harus nyuruh orang lain”. Saya hanya bisa menjawab jujur, saya memang tidak bisa melakukannya, maka saya menyuruh orang yang lain untuk mengerjakan, tidak apa-apa saya harus membayar mereka. Dan biasanya mereka berkata lagi, “makanya harus banyak belajar, supaya tahu banyak hal, tidak hanya itu-itu saja”.
Saya memang cenderung tidak mau mempelajari hal-hal yang tidak saya sukai. Misalnya, ketika terjadi korsleting instalasi listrik di rumah, saya lebih memilih memanggil tukang PLN daripada naik turun atap mencari penyebab korslet. Atau ketika kaki meja patah, saya lebih memilih membawanya ke tukang kayu daripada berusaha memperbaiki sendiri. Karena biasanya ketika saya tangani sendiri hasilnya sangat tidak memuaskan. Maka saya lebih menyuruh orang lain dan membayar mereka untuk membereskan sesuatu yang di luar kemampuan saya, daripada harus belajar sendiri dari awal. Sementara mereka bekerja, saya juga melanjutkan pekerjaan saya.
Tahu sedikit tentang banyak atau tahu banyak tentang sedikit?
Belajar memang kewajiban setiap manusia hidup di dunia ini. Tapi akan lebih baik mempelajari satu hal secara mendalam dan detail hingga tahu luar dan dalam, daripada belajar banyak hal tapi hanya kulitnya saja. Sebab profesionalisme tidak diukur dari seberapa banyak keterampilan yang dimiliki seseorang, tapi sejauh mana orang itu memahami dan mendalami profesinya. Sebagai contoh, guru yang sukses adalah guru yang mampu mencerdaskan muridnya karena itu memang bidangnya, bukan guru yang bisa menjahit, bertani dan mereparasi barang elektronik tapi pembelajaran di kelas hanya sebatas formalitas. Oleh karena itu, lebih baik tahu sedikit tentang banyak dari pada tahu banyak tentang sedikit.
Serba bisa bukan berarti bisa diandalkan
Orang yang bisa melakukan banyak hal (baca: serba bisa) tapi hanya sedikit-sedikit bukanlah orang yang bisa diandalkan. Ketika sudah berhadapan dengan hal yang bersifat teknis, mereka akan kesulitan mengerjakannya, bahkan bisa berakibat lebih buruk. Saya pernah mengalaminya. Suatu saat televisi di rumah saya mengalami gangguan. Kebetulan saat itu di rumah saya ada tetangga yang dikenal serba bisa, termasuk urusan elektronik. Ia juga sering diminta tetangga yang lain memperbaiki perabot kayu yang rusak, menangani korsleting listrik, bahkan menjadi tukang cukur. Saya tertarik untuk menggunakan jasanya, karena memang ia menawarkan dirinya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, televisi saya rusak lebih parah. Karena minim pengalaman dan pengetahuan, sesuatu yang masih bagus dianggapnya rusak. Itulah mengapa orang yang serba bisa tapi hanya sedikit kemampuannya bukan berarti orang yang cerdas dan bisa diandalkan.
Tidak bisa berbuat bukan berarti kebodohan
Tidak bisa bukan berarti bodoh. Contoh yang nyata, sangat wajar jika atlet tinju tidak bisa bermain sepak bola, atau tukang jahit yang tidak mahir memperbaiki sepeda motornya meski hanya kerusakan kecil. Mereka tidak bisa disalahkan dan juga tidak bisa disebut bodoh, karena mengerjakan sesuatu yang bukan bidangnya sama saja dengan mengharapkan ketidaksuksesan. Dalam keyakinan saya, Nabi Muhammad pernah bersabda “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu” (Hadis Riwayat Bukhari). Keyakinan ini memberikan prinsip dalam hidup saya, jika menghadapi suatu hal yang bukan bidangnya, serahkan saja kepada ahlinya, maka semua akan beres.
Negeri ini butuh orang yang ahli di bidangnya
Fenomena yang sekarang terjadi di negeri ini banyak artis berlomba-lomba menjadi pemimpin rakyat. Popularitas mereka sering dimanfaatkan partai politik untuk memenangkan pemilihan kepala daerah dan anggota legislatif. Mereka memang tidak salah, karena itu juga bagian dari hak mereka sebagai warna negara. Tapi Apa yang akan mereka lakukan setelah mereka menduduki kekuasaan? Mereka akan menjadikan negeri ini seperti panggung hiburan, karena itulah dunia mereka. Mereka memang ahli dalam memerankan tokoh sinetron atau film, atau melantunkan lagu hingga membuat pendengarnya terhipnotis tapi tidak berarti cerdas dalam mengurusi masalah negara dengan segala persoalannya. Jika negara ini dipimpin oleh orang yang bukan ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya.
Saya memang cenderung tidak mau mempelajari hal-hal yang tidak saya sukai. Misalnya, ketika terjadi korsleting instalasi listrik di rumah, saya lebih memilih memanggil tukang PLN daripada naik turun atap mencari penyebab korslet. Atau ketika kaki meja patah, saya lebih memilih membawanya ke tukang kayu daripada berusaha memperbaiki sendiri. Karena biasanya ketika saya tangani sendiri hasilnya sangat tidak memuaskan. Maka saya lebih menyuruh orang lain dan membayar mereka untuk membereskan sesuatu yang di luar kemampuan saya, daripada harus belajar sendiri dari awal. Sementara mereka bekerja, saya juga melanjutkan pekerjaan saya.
Tahu sedikit tentang banyak atau tahu banyak tentang sedikit?
Belajar memang kewajiban setiap manusia hidup di dunia ini. Tapi akan lebih baik mempelajari satu hal secara mendalam dan detail hingga tahu luar dan dalam, daripada belajar banyak hal tapi hanya kulitnya saja. Sebab profesionalisme tidak diukur dari seberapa banyak keterampilan yang dimiliki seseorang, tapi sejauh mana orang itu memahami dan mendalami profesinya. Sebagai contoh, guru yang sukses adalah guru yang mampu mencerdaskan muridnya karena itu memang bidangnya, bukan guru yang bisa menjahit, bertani dan mereparasi barang elektronik tapi pembelajaran di kelas hanya sebatas formalitas. Oleh karena itu, lebih baik tahu sedikit tentang banyak dari pada tahu banyak tentang sedikit.
Serba bisa bukan berarti bisa diandalkan
Orang yang bisa melakukan banyak hal (baca: serba bisa) tapi hanya sedikit-sedikit bukanlah orang yang bisa diandalkan. Ketika sudah berhadapan dengan hal yang bersifat teknis, mereka akan kesulitan mengerjakannya, bahkan bisa berakibat lebih buruk. Saya pernah mengalaminya. Suatu saat televisi di rumah saya mengalami gangguan. Kebetulan saat itu di rumah saya ada tetangga yang dikenal serba bisa, termasuk urusan elektronik. Ia juga sering diminta tetangga yang lain memperbaiki perabot kayu yang rusak, menangani korsleting listrik, bahkan menjadi tukang cukur. Saya tertarik untuk menggunakan jasanya, karena memang ia menawarkan dirinya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, televisi saya rusak lebih parah. Karena minim pengalaman dan pengetahuan, sesuatu yang masih bagus dianggapnya rusak. Itulah mengapa orang yang serba bisa tapi hanya sedikit kemampuannya bukan berarti orang yang cerdas dan bisa diandalkan.
Tidak bisa berbuat bukan berarti kebodohan
Tidak bisa bukan berarti bodoh. Contoh yang nyata, sangat wajar jika atlet tinju tidak bisa bermain sepak bola, atau tukang jahit yang tidak mahir memperbaiki sepeda motornya meski hanya kerusakan kecil. Mereka tidak bisa disalahkan dan juga tidak bisa disebut bodoh, karena mengerjakan sesuatu yang bukan bidangnya sama saja dengan mengharapkan ketidaksuksesan. Dalam keyakinan saya, Nabi Muhammad pernah bersabda “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu” (Hadis Riwayat Bukhari). Keyakinan ini memberikan prinsip dalam hidup saya, jika menghadapi suatu hal yang bukan bidangnya, serahkan saja kepada ahlinya, maka semua akan beres.
Negeri ini butuh orang yang ahli di bidangnya
Fenomena yang sekarang terjadi di negeri ini banyak artis berlomba-lomba menjadi pemimpin rakyat. Popularitas mereka sering dimanfaatkan partai politik untuk memenangkan pemilihan kepala daerah dan anggota legislatif. Mereka memang tidak salah, karena itu juga bagian dari hak mereka sebagai warna negara. Tapi Apa yang akan mereka lakukan setelah mereka menduduki kekuasaan? Mereka akan menjadikan negeri ini seperti panggung hiburan, karena itulah dunia mereka. Mereka memang ahli dalam memerankan tokoh sinetron atau film, atau melantunkan lagu hingga membuat pendengarnya terhipnotis tapi tidak berarti cerdas dalam mengurusi masalah negara dengan segala persoalannya. Jika negara ini dipimpin oleh orang yang bukan ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya.

1 comments so far
Lagi pula kalau semua hal setiap orang harus bisa, pertanyaan saya : kapan waktu dan umur yang ia miliki untuk mempelajari semua hal. Sedangkan waktu dan kemampuan terbatas.
EmoticonEmoticon