05 December 2012

Tips Berhenti Merokok

Banyak perokok mengatakan sangat sulit berhenti merokok, apalagi perokok berat. Alasannya beragam, mulai dari kepala jadi pening, mulut “kecut”, pikiran kosong, kehilangan ide, tidak jantan, atau alasan yang mengada-ada, yaitu meski tidak merokok tetap tidak punya uang. Jika berkaitan dengan reaksi tubuh memang ada benarnya namun bila dikaitkan dengan kondisi keuangan, sama sekali tidak benar. Coba dihitung sendiri, jika dalam 24 jam Anda menghisap 2 bungkus rokok seharga Rp 20.000,00, dalam 1 bulan Anda menghabiskan Rp 600.000,00. Bila kebiasaan itu dihentikan, minimal tersisa Rp 600.000,00 dari anggaran pengeluaran Anda selama 1 bulan. Perhitungannya mudah bukan?
thank you for not smoking
Saya berani mengatakan seperti itu karena saya sudah membuktikannya. Saya mulai mengenal rokok sejak 2002 dan selama 10 tahun saya menjadi perokok aktif. Pada awalnya sehari hanya sebatang saja, tapi  lama-lama mencapai 32 batang per hari. Menurut saya, perjalanan hidup selama 10 tahun bukan waktu yang singkat. Banyak hal yang saya alami bersama dengan rokok, yang menyenangkan maupun menyedihkan. Hingga akhirnya pada 2012 memutuskan untuk berhenti merokok.

Alasan utama saya berhenti merokok adalah faktor kesehatan dan kondisi keuangan. Saya pernah terkena bronchitis pada 2009 yang menyebabkan saya harus terbatuk-batuk selama hampir 6 bulan. Dokter menganjurkan saya berhenti merokok. Saya menurutinya, namun hanya selama 2 bulan. Setelah sembuh saya merokok lagi, bahkan lebih menjadi-jadi. Hingga pada pertengahan 2012 saya merasakan gejala yang sama saat terkena bronchitis. Batuk kering dan berat, keringat terus mengalir siang dan malam, nafas sesak dan sakit, susah tidur, sering demam dan nafsu makan menurun drastis. Sebelum keadaan lebih parah, saya meyakinkan diri untuk berhenti merokok sejak Maret 2012.

Alasan lainnya adalah anak saya semakin tumbuh besar, sementara penghasilan saya tidak banyak berubah. Meski baru 4 tahun, permintaannya sudah macam-macam. Jika dikalkulasi bisa menghabiskan Rp 200.000,00 – Rp 300.000,00 satu bulan. Bagi sebagian besar orang, itu hanya angka kecil namun bagi saya yang hanya seorang pegawai honorer, angka yang cukup lumayan. Oleh karena itu saya lebih memilih tidak merokok dari pada tidak bisa membelikan jajan untuk anak saya.

Banyak teman yang bertanya bagaimana saya bisa berhenti merokok dalam waktu singkat. Jawabannya singkat, “silakan lihat di blog saya”. Segala sesuatu yang dilakukan agar berhasil diawali dari niat yang tulus dan keyakinan yang kuat. Tetap fokus pada tujuan dan tidak terpengaruh oleh godaan dan rayuan yang datang dari berbagai pihak. Diri sendirilah yang paling menentukan keberhasilan atas usaha yang dilakukan. Faktor dari luar hanya sebagai penyeimbang dan pelengkap saja.

Lalu bagaimana saya bisa berhenti merokok?
1.    Niat yang 100%
Segala sesuatu diawali dari niat. Jika niat sudah mantap, segala godaan tidak akan menggoyahkan langkah untuk mencapai tujuan. Jadi yang pertama dilakukan adalah niat dengan keteguhan hati bahwa “saya tidak akan merokok lagi.” Awal saya berhenti merokok banyak teman bercanda, “nyirih saja”, bahkan ada yang rela membelikan saya rokok, karena menganggap saya main-main. Namun sekali lagi berawal dari niat yang 100%, akan membuahkan hasil 100% pula.

2.    Bersihkan rumah, kamar, meja kerja, tas, dan saku baju dari unsur rokok
Jika semula tempat-tempat itu selalu dihiasi dengan asbak, puntung rokok, korek api, dan bungkusan rokok, maka agar Anda bisa menghentikan kebiasaan merokok, bersihkan dulu pandangan Anda dari hal-hal yang berbau rokok. Peribahasa “tak kenal maka tak sayang” sangat cocok untuk diterapkan. Bukankah untuk mengenal berawal dari pandangan?

3.    Lakukan secara bertahap
Tidak mudah untuk menghentikan kebiasaan merokok jika harus berbalik 180 derajat. Bila dipaksakan bisa menyebabkan stress dan gangguan secara kejiwaan. Lakukanlah secara bertahap agar otak dan syaraf bisa beradaptasi dengan kebiasaan Anda secara sempurna. Jika semula menghabiskan 2 bungkus sehari, kurangi sedikit demi sedikit hingga akhirnya tidak sama sekali. Ibarat botol, jika diisi air satu kali siram maka hanya sedikit air yang masuk, namun jika dialiri sedikit demi sedikit, akan cepat penuh.

4.    Hindari terlalu banyak ngemil
Banyak orang mengatakan untuk bisa berhenti merokok harus banyak makan makanan ringan (ngemil). Hasrat untuk merokok diganti dengan makanan kecil. Namun menurut saya, itu tidak benar. Semakin banyak makan justru semakin kuat keinginan merokok. Bukankah akan terasa begitu nikmat merokok setelah makan?

5.    Perbanyak minum air putih
Sediakan banyak air putih di sekitar Anda karena berdasar pengalaman saya, air putih bisa menetralkan mulut dan lidah ketika muncul keinginan merokok. Kurangi minum kopi atau teh, karena dua minuman itu akan semakin menambah kuat hasrat untuk merokok. Kopi + rokok = nikmat, betul?

6.    Beri tahu teman, keluarga dan saudara bahwa Anda berhenti merokok
Semakin banyak orang yang tahu bahwa Anda berhenti merokok akan memberikan sugesti positif terhadap Anda. Jika Anda sudah menyatakan berhenti merokok namun suatu saat teman Anda mengetahui Anda sedang merokok, saya yakin teman Anda akan mengolok-olok atau mencemooh dan menilai Anda tidak konsisten. Apakah Anda mau dicibir, dicemooh, dan dicap orang yang tidak konsisten?

7.    Jangan hindari teman perokok
Jika Anda berniat berhenti merokok, jangan hindari teman Anda yang merokok karena hal itu bisa berdampak buruk secara sosial. Bisa-bisa Anda tidak mempunyai teman. Coba bandingkan teman-teman Anda terutama yang laki-laki yang merokok dan yang tidak merokok. Di sekitar saya, 90% adalah perokok aktif. Mereka bukan untuk dihindari apalagi dimusuhi justru bisa dijadikan motivasi seberapa besar keteguhan Anda untuk berhenti merokok. Jika Anda berhasil berhenti merokok di lingkungan perokok, keberhasilan Anda benar-benar luar biasa.

8.    Jangan percaya bahwa perokok pasif lebih berbahaya
Pendapat umum yang beredar adalah perokok pasif berisiko lebih besar terkena dampak negatif rokok dari pada perokok aktif. Menurut saya hal itu tidak benar. Tidak perlu melakukan penelitian secara mendalam. Coba pikirkan dengan logika, perokok aktif juga sekaligus perokok pasif karena selain menghirup nikotin dan asap rokok sendiri, juga menghirup asap dari perokok lainnya. Sedangkan perokok pasif hanya mungkin menghirup asap rokok dari perokok lainnya. Jadi risikonya adalah 2 : 1, lebih berbahaya perokok aktif.

9.    Yakinkan bahwa bahaya rokok lebih banyak daripada manfaatnya
Banyak orang merokok karena alasan subyektif. Memang benar rokok bisa meningkatkan konsentrasi, teman yang cocok sambil menunggu, pelengkap setelah makan, teman ngobrol yang nikmat, atau menjadi sarana menemukan ide dan inspirasi. Namun semua itu tidak sebanding dengan bahaya dan risiko yang ditimbulkannya. Rokok mengandung ribuan zat kimia yang berbahaya. Endapan zat kimia tersebut dalam tubuh bisa menjadi bom waktu yang bisa menyebabkan Anda terbunuh secara pelan-pelan.

Jadi, Anda pilih yang mana, hidup diperudak rokok atau merdeka tanpa rokok? Anda sendiri yang menentukan. Saran saya, merokoklah sepuasnya sebelum rokok menyakiti Anda, namun setelah sakit, jangan sampai rokok membunuh Anda.

7 comments

terima kasih atas kunjungan dan comment-nya mas/mba/pak/bu

semoga semakin banyak orang yang berhenti merokok dan mengampanyekan untuk berhenti merokok serta mencegah munculnya perokok baru

narkoba , ganja , alkohol sudah bisa di hindari . sekarang tinggal rokok . untuk blog ini terima kasih pencerahannya untuk menguatkan motivasi lagi :D

Terima kasih sudah berkunjung, rokok memang ada manfaatnya, tapi saya yakin lebih banyak kerugiannya.

rokok itu manfaatnya apa sih???,, padahal mereka sudah tau ya om tapi kug tetep aja di jadi'n hoby..
untunglah saya tidak merokok...
hehetapi kalau gak ada rokok,pabrik rokok juga gak ada,,tambah lagi deh pengangguran yang awalnya kerja di pabrik rokok..
hidup memang gabungan dari baik dan buruk,,
tapi tetep masih lebih baik tidak merokok,,hehe

Itulah dilema-nya. Negara mendapatkan hingga 40 triliun per tahun dari industri rokok. Pemerintah menganjurkan tidak merokok namun di sisi lain mendukung penuh perkembangan industri rokok.
Tapi yang pasti semua berawal dari diri kita sendiri. Kata Iwan Fals, "ya atau tidak, itu saja".


EmoticonEmoticon