Bagi orang Jawa, alon-alon asal kelakon sudah mendarah daging sejak dahulu. Ucapan ini menjadi nasihat umum yang disampaikan kepada seseorang ketika akan melakukan aktivitas tertentu. Ketika akan bepergian misalnya atau ketika sedang memburu sebuah target hasil pekerjaan, kita sering diingatkan oleh orang tua atau sahabat kita dengan ucapan itu. Arti yang sederhana adalah “pelan-pelan yang penting terlaksana”. Maksudnya memang baik, yaitu mengingatkan kita agar tidak tergesa-gesa dalam melakukan pekerjaan. Tapi tahukah Anda bahwa istilah itu hasil propaganda bangsa Belanda pada masa kolonialisme dulu?
Ketika bangsa kita masih dalam cengkeraman kolonialisme, berbagai upaya dilakukan oleh penjajah untuk membunuh karakter bangsa kita. Propaganda-propaganda disebarluaskan dengan berbagai cara agar bangsa kita tunduk dan mengakui eksistensi mereka, termasuk dalam penggunaan istilah atau bahasa. Tujuannya tidak lain agar bangsa kita mudah diatur, tidak membangkang, dan tidak berkembang.
Alon-alon asal kelakon memang bisa memberi sugesti positif agar kita selalu sabar dalam beraktivitas. Namun sebenarnya hal itu bisa mengakibatkan kita ragu-ragu, terlalu banyak pertimbangan, dan tidak mau berusaha keras untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Orang-orang Belanda yang notabenenya pada saat itu sebagai bangsa yang lebih cerdas, mempropagandakan istilah itu agar kita tidak banyak bergerak dan tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan mereka. Jika bangsa kita aktif dan mampu bergerak cepat tanpa ragu-ragu, kaum kolonialis khawatir tidak bisa lagi mengatur bangsa kita. Oleh karena itu kita diminta pelan-pelan saja yang penting terlaksana.
Padahal sejatinya, segala hal yang kita inginkan harus kita usahakan agar bisa terwujud secepatnya. Untuk bisa cepat, hal yang pertama dilakukan adalah menyusun rencana yang matang. Rencana itu kemudian diorganisasi agar terjadwal dengan rapi, tidak tumpang tindih dan mudah dikelola. Setelah itu baru kita beraksi dengan taktik yang jitu. Namun jangan lupa untuk melakukan kontrol dan evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan. Kalau bisa cepat mengapa harus diperlambat? Cepat bukan berarti tergesa-gesa. Asal kita punya rencana yang matang dan taktik yang jitu, keinginan sesulit apapun bisa cepat terwujud.
Ketika bangsa kita masih dalam cengkeraman kolonialisme, berbagai upaya dilakukan oleh penjajah untuk membunuh karakter bangsa kita. Propaganda-propaganda disebarluaskan dengan berbagai cara agar bangsa kita tunduk dan mengakui eksistensi mereka, termasuk dalam penggunaan istilah atau bahasa. Tujuannya tidak lain agar bangsa kita mudah diatur, tidak membangkang, dan tidak berkembang.Alon-alon asal kelakon memang bisa memberi sugesti positif agar kita selalu sabar dalam beraktivitas. Namun sebenarnya hal itu bisa mengakibatkan kita ragu-ragu, terlalu banyak pertimbangan, dan tidak mau berusaha keras untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Orang-orang Belanda yang notabenenya pada saat itu sebagai bangsa yang lebih cerdas, mempropagandakan istilah itu agar kita tidak banyak bergerak dan tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan mereka. Jika bangsa kita aktif dan mampu bergerak cepat tanpa ragu-ragu, kaum kolonialis khawatir tidak bisa lagi mengatur bangsa kita. Oleh karena itu kita diminta pelan-pelan saja yang penting terlaksana.
Padahal sejatinya, segala hal yang kita inginkan harus kita usahakan agar bisa terwujud secepatnya. Untuk bisa cepat, hal yang pertama dilakukan adalah menyusun rencana yang matang. Rencana itu kemudian diorganisasi agar terjadwal dengan rapi, tidak tumpang tindih dan mudah dikelola. Setelah itu baru kita beraksi dengan taktik yang jitu. Namun jangan lupa untuk melakukan kontrol dan evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan. Kalau bisa cepat mengapa harus diperlambat? Cepat bukan berarti tergesa-gesa. Asal kita punya rencana yang matang dan taktik yang jitu, keinginan sesulit apapun bisa cepat terwujud.
EmoticonEmoticon